Kamis, 04 April 2013

Sosok Akrab Yang Tak Dikenal

Seperti biasa, hari ini aku menemukan dirimu sedang duduk menunggu di lobi kampus. Entah siapa yang kau tunggu. Jika aku menerka pun pasti hanya akan berakhir pada asumsi. Mana mungkin aku  berani bertanya langsung padamu? Kalaupun aku berani, aku bertaruh kau akan diam membisu dengan tatapan bingung seolah ada orang asing yang tiba-tiba saja datang dan meminta segelas teh yang sedang kau pegang itu. Ya, aku mengamatimu. Sepertinya kau begitu suka dengan aroma teh di sore hari ya? Ah, tidak hanya di sore hari. Sepanjang waktu kau selalu menikmati aroma teh yang sama. Teh hangat yang selalu terisi penuh di dalam gelas kertas yang kau beli di salah satu kedai minuman di sekitar kampus. Kau begitu akrab, bagaikan aroma teh yang kau hirup saat itu. Aroma teh yang juga selalu hadir di setiap pagiku. Aroma teh yang mampu membangkitkan semangat di setiap hariku. Aroma teh yang tak asing, sama seperti sosokmu yang tak aku kenal dengan pasti namun tak henti aku amati. 

Sikap ramahmu yang penuh dengan tebar sapa dan senyum. Sikap diammu juga yang mampu membuat orang-orang di sekitarmu terkadang bingung. Kecerdasan dan kemampuan-mu dalam bidang filsafat, tak urung menjadi salah satu faktor yang mampu membuat dosen menatap kagum. Parasmu? Tak begitu tampan menurutku, hanya saja ada keindahan tersendiri saat menatapmu. Terdengar berlebihan bukan? Percayalah, tak perlu aku melebih-lebihkan seseorang, aku pun tak suka sesuatu yang berlebihan. Aku hanya mampu mendeskripsikan apa yang menjadi kesan pertama saat bertemu dengan seseorang. Hanya saja kesan pertama itu tak pernah hilang, selalu melekat menjadi simbol bagi dirimu.

Kau dan aku ada dalam ruang lingkup yang sama. Lingkungan kita juga tak jauh berbeda. Status yang masih tercatat sebagai mahasiswa. Tapi, ada yang membuatku begitu sulit untuk bersuara dan menyapa namamu. Kau membangun dinding yang cukup tinggi untuk dilompati. Kau memiliki lapisan yang cukup tebal untuk ditembus. Aku seperti melihat diriku pada sosokmu. Seperti ada cermin besar yang memantulkan bayanganku. Mungkin itu juga yang menjadi pandangan orang lain atas diriku? Aku tak begitu paham akan hal itu. Inilah yang menyebabkan aku dan kamu jarang menyapa dalam keramaian ataupun saat sendirian. Kita menjadi sosok akrab yang tak saling mengenal.

(dibuat sebagai pengantar bagi proyek terbaru bersama kedua orang blogger lainnya)

Cheers!
-T-