Rabu, 27 Maret 2013

Am I good or great?

"Try to act as a good person, not a great person."


Sama seperti mereka, aku mencoba memberi yang terbaik dengan harapan mendapatkan yang lebih baik. Teori pertukaran yang lumrah bukan? Teori pertukaran yang menjadikan reward dan punishment sebagai tolak ukur utama dalam hubungan interpersonal manusia.
Namun, sudah beberapa waktu ini ada yang berubah dengan teori itu. Lebih tepatnya, ada seseorang yang merubah keyakinanku atas teori itu. "Cobalah membahagiakan orang lain, memberi sebanyak-banyaknya tanpa harus mengharapkan sesuatu sebagai balasan. Lihat betapa Tuhan memiliki sesuatu yang lebih indah untuk diberikan. Karena kita fokus pada niat tulus dan kebaikan."
Ya, aku mulai meyakininya. Aku mulai merasakan betapa rasa bahagia dapat hadir tanpa adanya keharusan bagi Tuhan untuk memberikan apa yang kita inginkan, tetapi selalu menyediakan apa yang kita butuhkan.

-T-

Senin, 25 Maret 2013

Joy dan Desember

Desember.
Bisa dilihat bahwa tak sedikit manusia yang menyambut bulan sakral penuh suka cita ini. Bulan di mana perayaan natal setiap tahunnya akan terjadi. Dimana setiap umat nasrani merasakan kehangatan dan kebahagiaan dengan sejuta harapan terpanjat kepada Yang Kuasa.

Desember.
Beberapa negara menandai bulan ini dengan turunnya kristal-kristal es dari langit yang jika menyentuh udara bumi akan berubah menjadi butiran-butiran putih bernama salju. Ini unik, musim dingin selalu menghadiahkan tumpukan salju bagi setiap negeri dengan empat musim. Salju yang hadir secara alami.

Desember.
Mungkin di tempatku berpijak kini, tidak ada salju yang menemani. Tapi aku masih bisa menunggu musim penghujan yang akan segera datang. Aku menunggu saat-saat menyenangkan ketika hujan turun hingga kemudian hujan berhenti dan menyisakan aroma khas yang setiap tahunnya selalu kurindukan.

Desember.
Jika umumnya pergantian tahun dimulai dengan bulan Januari yang selalu ramai dengan euforia "happy new year", kali ini rasanya hidupku bermula dari bulan Desember, bukan Januari.

Desember.
Begitu berwarna, begitu menyulutkan api gairah, begitu banyak catatan manis, begitu penuh dengan dukungan dan semangat, awal lahirnya kepercayaan diri yang luar biasa menggebu.

Tapi...
Di sini, di bulan Januari ini.


"Hei, Januari!
Kenapa kau begitu tak bersahabat denganku? Mengapa kau ukirkan masalah tak tertuntaskan yang masih mengambang hingga kini? Haruskah aku menyambutmu dengan hati gembira seperti dulu?" -Joy-


Saat aku mengukir tulisan ini, aku sedang melihat pada setiap kenangan manis yang berayun di memori. Satu potret wajah-wajah dengan senyum sumringah. Kebersamaan yang ditandai dengan genggaman tangan. Pelukan terhangat yang hadir dalam setiap keraguan, setiap resah malam.
Memang, itu hanya terjadi pada Desember kemarin. Karena bagiku, tak ada lagi Januari.



Asumsi (?)

"Aku cuma gak mau asumsi-asumsi mereka mengganggu mimpimu..."

Perduli apa lagi dengan semua mimpi-mimpi itu?
Aku bahkan tak yakin jika masih ada jalan untuk meraih mimpi itu. Sekedar membayangkan, sebatas mengkhayalkan, aku sudah sangat bosan melakukannya. Aku telah berusaha sebisaku untuk meraihnya. Tapi tak banyak yang aku dapatkan. Ya, mungkin aku terlalu serakah. Atau terlalu ambisius hingga tak bersyukur dengan segala kebaikan yang hadir padaku sampai detik ini.

Ah, andai saja aku seorang sosialita yang bisa menembus segala hambatan dengan bekal materi yang kumiliki. Andai aku secerdas para ilmuwan sehingga bisa menemukan rumus cepat, solusi atas segala ketidakpuasan ini. Mungkin aku harus menjadi seekor "kancil" dahulu, demi memikirkan langkah cerdik dan cepat untuk menggapai mimpi-mimpiku.

Kini yang menjadi fokus utamaku adalah bagaimana caranya aku menikmati hari ini, lalu berganti menjadi esok, dan esoknya lagi, seterusnya hingga aku menemukan makna kebahagiaan dari mimpi itu sendiri.

Senin, 18 Maret 2013

I hate (and enjoy) this song...

Aku benci dengan alunan musik ini, karena aku tau arahnya akan menuju satu lagu yang utuh dengan lirik tak menyentuh, namun justru mengusik kenyataan yang sejak lama tak kuhiraukan kehadirannya. Tak mau dia mengusik mimpiku, aku depak dia dari daftar kemungkinan. Tak begitu berguna sebenanrnya, karena faktanya ia memang tak pernah absen hadir dalam setiap mimpi malamku. Aku benci itu. Ya, kebencian yang tak beralasan. Akibat dari ego manusia yang sulit untuk ditahan. 


"Tuan kesepian, tak punya teman. Hatinya rapuh tapi berlagak tangguh.
Nona tak berkawan, tak pernah rasakan cinta. Sungguh pandai berkhayal, mimpi itu alamnya.
Mereka berdua bertemu di satu sudut taman kota.
Berkata tapi tak bicara, masing-masingnya menganalisa."


Mungkin bagi mereka ini hanya sepenggal lirik tak mengena. Namun, beberapa orang bisa saja memaknainya. Sungguh kontradiksi yang luar biasa. Bagaimana kita bisa menikmati sebuah lagu dan ikut bernyanyi sepanjang musik mengalun ketika hati dipenuhi dengan rasa gembira. Akan tetapi di lain waktu, saat hati sedang begitu peka, kita bisa benar-benar merenungi makna dari setiap kata, mencoba mencari kesamaan peristiwa.

Kamis, 14 Maret 2013

Terlanjur Mengukir (Lagi)

Kamis, 14 Maret 2013
(20.20)

Perasaan sepi itu semakin menyeruak ketika malam tiba dan tak lagi nampak keramaian yang biasa menjadi makanan di hari sibukku.

Yang aku tahu, kini aku merasakan kehilangan. Aku kehilangan seseorang.
Ada ruang kosong yang tertinggal, meskipun memorinya akan tetap penuh dengan kenangan indah.

Yang aku ingat, aku pernah menangis di pundaknya dan ia menangis di hadapanku.
Kami menemukan titik lemah masing-masing.
Kami membuka rahasia dalam kediaman.
Kami membagi kebahagiaan melalui kebersamaan.

Di mana dia kini?
Aku pun tak tahu...
Mungkin, dia masih ada di sekitarku. Namun aku tak lagi mampu menyentuhnya dengan lebut seperti dulu.
Mungkin, aku masih bisa menatapnya meski jarak menjauhkan. Namun ia tak lagi berniat menatapku seperti dulu.
Mungkin, sebenarnya kami masih bisa saling tersenyum dan tertawa bebas bersama hari yang terlewat. Namun, kami sama-sama tak tahu lagi bagaimana cara  tertawa yang tulus seperti dulu.

Aku hanya tak ingin kehilangan lagi.
Aku tahu, aku terlanjur mengukir kenangan (lagi) yang tak mungkin ku hapus dari memori ini.
Aku semakin membutuhkanmu. Merasa penuh karena kehadiranmu. Tokohmu telah menjadi bagian dari ceritaku. Senyumanmu berhasil mewarnai hariku.
Dan terakhir kali, beberapa waktu yang lalu, kau sempat melihatku menangis hingga kemudian kau ikut menangis. Aku menangis bersamamu. Kau menangis bersamaku.
Rahasia terbesarmu, ceritamu, keseharianmu, sebagian sifat buruk dan baikmu, kekonyolan polosmu, semuanya. Aku sudah tak mampu laghi menghapusnya dari memori. Aku terlanjur mengukirnya lagi.

Aku tak ingin kehilangan lagi.
Jika kau membaca ini, jangan pernah berpikir aku mengharap sesuatu yang lebih darimu. Aku hanya tak ingin kehilangan pegangan lagi.
Berjanjilah, sejauh apapun jarak dan waktu memisahkan jiwa dan diri, kita akan tetapmenjadi "aku" dan "kamu" yang seperti ini.

-T-

Cinta Dalam Sekotak Kismis

"Coba kamu rasakan. Rasa asamnya berbeda dari rasa asam buah stroberi. Kismis memiliki rasa yang jauh lebih asam dengan sedikit sensasi rasa pahit. Berbeda dengan buah stroberi yang justru memiliki rasa manis dengan sensasi rasa asam yang menggelitik kita untuk mencoba lagi, lagi, dan lagi."

"........"

"Tapi, uniknya kismis dan stroberi itu 'gak bisa dimakan berbarengan, karena rasanya 'gak akan cocok. Kismis itu berteman dengan coklat, rasa mereka akan jadi lebih unik."

"........"

"Masih mau dicampur kismis atau buah stroberi nih?"

"Kalau memang kismis 'gak berteman dengan stroberi, kenapa masih ada orang yang justru suka kedua-duanya?"

"Siapa bilang mereka 'gak berteman? Aku cuma bilang kalau mereka punya sensasi rasa yang berbeda."

"Aku bodoh."

"Kenapa begitu?"

"Aku bahkan 'gak tahu hal sesederhana itu. Aku bahkan 'gak bisa membedakan rasa kismis dengan rasa stroberi. Aku terus dan selalu berpikir bahwa aku yang paling mengerti dan memahami. Pada kenyataannya, aku bahkan 'gak pernah mencoba menyukai keduanya."

"Kalau kamu 'gak suka, kenapa kamu ngotot mau bikin ini?"

"Nggak tau."

"Kamu bisa suka sesuatu kalau kamu mau. Kamu bisa melakukan sesuatu selama ada niat di hatimu. Kamu akan berhasil jika kamu memberikan usaha yang sepadan dengan hasilmu."

"Maksudnya?"

"Kamu tau kamu 'gak suka kismis ataupun stroberi, tapi kamu berusaha keras untuk bisa suka dengan kedua-duanya, berarti ada yang mempengaruhi kamu untuk suka dengan keduanya kan?"

"Bukannya aku 'gak suka dengan kismis ataupun stoberi, aku cuma mencoba untuk lebih suka dengan keduanya kok."

"Oke, kamu menang. Should we start now?"

"Ajari aku. Ajari aku untuk lebih menyukai keduanya. Ajari aku mengerti bahwa keduanya berbeda namun sama-sama menawarkan rasa yang menarik."

"Mereka asam lho.."

"Sejauh apa aku perduli dengan rasa asam itu? Yang aku tahu ada seseorang di luar sana yang menyukai keduanya. Dan aku tahu ternyata aku menyukai orang itu."

"Karena itu kamu mencoba untuk menyukai kismis dan stoberi?"

"Mungkin.."

"Salah. Jawabannya: Ya."

"........."

"Suka? Hanya sebatas perasaan suka?"

"Apalagi kalau bukan rasa suka?"

"Perasaan yang lainnya? Kagum mungkin? Atau..."

"Atau cinta? Begitu kan maksudnya?"

"Paling tidak kamu mengakuinya tanpa aku paksa. Hahahahaha."

"........."

"Ngomong-ngomong, di mana kamu menemukan rasa cinta itu?"

"........."

".......?"

"Di dalam sekotak kismis."

Ada Yang Berubah Dari Duniaku

Rabu, 13 Maret 2013
(00.30)

"Bau tanah setelah hujan di pagi hari, menguar aroma khas namun penuh dengan kesedihan..
Angin sore yang menerpa, mengusap lembut pipi yang selalu tanpa polesan..

Taburan bintang di langit malam yang kosong bagaikan kain hitam polos tanpa sentuhan.."

Sore kedua di hari ke tiga belas pada bulan ketiga tahun ini, tak ada yang berubah.
Segala sesuatu yang kusukai, setiap hal yang mengganggu pikiranku, semua peristiwa yang terjadi selama setahun belakang, aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Tak ada yang berubah, sama sekali.
Hingga aku menyadari, suasana di sekitarku, lingkungan terdekatku dan mereka yang ada di di dalam kehidupanku. "Mengapa rasanya semakin berbeda?" aku tak tahan lagi untuk tak bertanya.
Aku bosan dengan kebingunganku. Aku bosan menunggu, menunggu ada yang menjelaskan kepadaku, bahwa ada yang berubah dari duniaku.
Ya, ada yang berbeda. Ternyata dari segala hal di dunia, ada satu yang akan selalu dan pasti berubah. Itu mereka, manusia. Mereka yang ada di dalam kehidupanku. Mereka yang masuk dan kemudian pergi mengisi hari-hariku.

-T-


Minggu, 10 Maret 2013

Mimpi

"Apa yang kita cari dari hidup ini?
Apa yang manusia harapkan pada setiap hari yang ia jalani?
Tak ada yang tau pasti kecuali manusia itu sendiri. Dimana jiwa-jiwa manusia tersebut bagaikan sebuah labirin. Memiliki begitu banyak sudut dan pintu. Berliku bagaikan arus anak sungai yang menuju hulu. Karena sejatinya hidup ini adalah sebuah proses panjang dalam menemukan dan mewujudkan mimpi."