Kamis, 14 Maret 2013

Terlanjur Mengukir (Lagi)

Kamis, 14 Maret 2013
(20.20)

Perasaan sepi itu semakin menyeruak ketika malam tiba dan tak lagi nampak keramaian yang biasa menjadi makanan di hari sibukku.

Yang aku tahu, kini aku merasakan kehilangan. Aku kehilangan seseorang.
Ada ruang kosong yang tertinggal, meskipun memorinya akan tetap penuh dengan kenangan indah.

Yang aku ingat, aku pernah menangis di pundaknya dan ia menangis di hadapanku.
Kami menemukan titik lemah masing-masing.
Kami membuka rahasia dalam kediaman.
Kami membagi kebahagiaan melalui kebersamaan.

Di mana dia kini?
Aku pun tak tahu...
Mungkin, dia masih ada di sekitarku. Namun aku tak lagi mampu menyentuhnya dengan lebut seperti dulu.
Mungkin, aku masih bisa menatapnya meski jarak menjauhkan. Namun ia tak lagi berniat menatapku seperti dulu.
Mungkin, sebenarnya kami masih bisa saling tersenyum dan tertawa bebas bersama hari yang terlewat. Namun, kami sama-sama tak tahu lagi bagaimana cara  tertawa yang tulus seperti dulu.

Aku hanya tak ingin kehilangan lagi.
Aku tahu, aku terlanjur mengukir kenangan (lagi) yang tak mungkin ku hapus dari memori ini.
Aku semakin membutuhkanmu. Merasa penuh karena kehadiranmu. Tokohmu telah menjadi bagian dari ceritaku. Senyumanmu berhasil mewarnai hariku.
Dan terakhir kali, beberapa waktu yang lalu, kau sempat melihatku menangis hingga kemudian kau ikut menangis. Aku menangis bersamamu. Kau menangis bersamaku.
Rahasia terbesarmu, ceritamu, keseharianmu, sebagian sifat buruk dan baikmu, kekonyolan polosmu, semuanya. Aku sudah tak mampu laghi menghapusnya dari memori. Aku terlanjur mengukirnya lagi.

Aku tak ingin kehilangan lagi.
Jika kau membaca ini, jangan pernah berpikir aku mengharap sesuatu yang lebih darimu. Aku hanya tak ingin kehilangan pegangan lagi.
Berjanjilah, sejauh apapun jarak dan waktu memisahkan jiwa dan diri, kita akan tetapmenjadi "aku" dan "kamu" yang seperti ini.

-T-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar