Desember.
Bisa dilihat bahwa tak sedikit manusia yang menyambut bulan sakral penuh suka cita ini. Bulan di mana perayaan natal setiap tahunnya akan terjadi. Dimana setiap umat nasrani merasakan kehangatan dan kebahagiaan dengan sejuta harapan terpanjat kepada Yang Kuasa.
Desember.
Beberapa negara menandai bulan ini dengan turunnya kristal-kristal es dari langit yang jika menyentuh udara bumi akan berubah menjadi butiran-butiran putih bernama salju. Ini unik, musim dingin selalu menghadiahkan tumpukan salju bagi setiap negeri dengan empat musim. Salju yang hadir secara alami.
Desember.
Mungkin di tempatku berpijak kini, tidak ada salju yang menemani. Tapi aku masih bisa menunggu musim penghujan yang akan segera datang. Aku menunggu saat-saat menyenangkan ketika hujan turun hingga kemudian hujan berhenti dan menyisakan aroma khas yang setiap tahunnya selalu kurindukan.
Desember.
Jika umumnya pergantian tahun dimulai dengan bulan Januari yang selalu ramai dengan euforia "happy new year", kali ini rasanya hidupku bermula dari bulan Desember, bukan Januari.
Desember.
Begitu berwarna, begitu menyulutkan api gairah, begitu banyak catatan manis, begitu penuh dengan dukungan dan semangat, awal lahirnya kepercayaan diri yang luar biasa menggebu.
Tapi...
Di sini, di bulan Januari ini.
"Hei, Januari!
Saat aku mengukir tulisan ini, aku sedang melihat pada setiap kenangan manis yang berayun di memori. Satu potret wajah-wajah dengan senyum sumringah. Kebersamaan yang ditandai dengan genggaman tangan. Pelukan terhangat yang hadir dalam setiap keraguan, setiap resah malam.
Memang, itu hanya terjadi pada Desember kemarin. Karena bagiku, tak ada lagi Januari.
Di sini, di bulan Januari ini.
"Hei, Januari!
Kenapa kau begitu tak bersahabat denganku? Mengapa kau ukirkan masalah tak tertuntaskan yang masih mengambang hingga kini? Haruskah aku menyambutmu dengan hati gembira seperti dulu?" -Joy-
Saat aku mengukir tulisan ini, aku sedang melihat pada setiap kenangan manis yang berayun di memori. Satu potret wajah-wajah dengan senyum sumringah. Kebersamaan yang ditandai dengan genggaman tangan. Pelukan terhangat yang hadir dalam setiap keraguan, setiap resah malam.
Memang, itu hanya terjadi pada Desember kemarin. Karena bagiku, tak ada lagi Januari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar