Sabtu, 05 Oktober 2013

Highlight

Sabtu, 19 Januari 2013

Sore hari ini aku kembali menatap langit sambil mengagungkan keindahan ciptaan-Nya yang tak terlukis dengan berjuta kata manis. Seperti biasa, sejenak ku hirup udara sore yang sejuk dan tak terasa degup jantungku menjadi sangat cepat karena tak sabar menanti malam yang akan segera tiba. Ya, entah kenapa aku selalu lebih memilih untuk menunggu malam datang dibandingkan dengan berada di hari yang tak kunjung usai.
Semua hal yang telah aku lalui selama satu tahun terakhir kembali menyeruak dan mengganggu alam sadarku.
"Aku tak yakin ini akan menjadi perjalanan yang sukes, atau paling tidak memberikan sedikit hasil yang menggembirakan bagiku." Pemikiran seperti ini yang selalu menggangguku. Pemikiran yang menggoyahkan rasa percaya diriku. Pemikiran yang mengganggu konsistensiku. Selalu saja begitu. Akan terus sama seperti itu.


******

Sebuah Ingatan (part 2)

"Gimana lo kabar? Makin baik nampaknya, hahaha."

"Baik bang, hahaha."

"Tahun baru nembak lah ya kayaknya."

"Tahun baru kecepetan. Tapi jangan maret juga, maret kelamaan. Pas gw ulang tahun aja kali ya. Hahaha."

"Nah. Ide bagus tuh. Ciee, yang ulang tahun mau dapet kado terindah."

Jakarta, 4 Oktober 2013
1.26 am

Sebuah Ingatan (Part 1)

"Kamu mau diramal gak?"
"Ah. Aku gak percaya ramalan."
"Yaudah deh, gak diramal. Tapi gimana kalau baca garis tangan?"
"Emang kamu bisa?"
"Dulu sih pernah diajarin temen gimana caranya baca garis tangan."
"......."
"Jadi gimana? Mau gak?"
"Boleh deh. Hahaha."

"Ini nih. Yang ini." (menunjuk beberapa garis tangannya, kemudian ia menunjuk garis tangannya yang pendek dan bercabang)
"Kalau yang ini namanya garis jodoh."
"Hari ini aku khusus mau ramal garis jodoh ya?"

"Oke. Jadi gimana garis jodoh saya Bu Peramal?"

"Hmmm, sebentar ya..."

"Apa jangan-jangan aku gak punya jodoh." (berlagak sedih)

"Ada kok. Menurut garis tangan kamu, jodoh kamu itu cuma akan ada satu dan selamanya."

"Wihhh.."
"Yang bener?" (memberikan ekspresi wajah tak percaya)

"Beneran!"
"Liat nih ya." (mengarahkan pandanganku menuju garis tangan yang ia maksud)
"Garis yang diujung ini namanya garis jodoh. Garis jodoh kamu cuma satu."
"Artinya jodoh kamu cuma satu dan untuk selamanya. Tapi..."

"Tapi?"

"Tapi sayangnya garis jodohmu ini panjang."

"Panjang?"

"Iya. Kamu akan butuh waktu lama untuk menemukan jodohmu itu."

"......"

"Liat ya garis jodohku." (menunjukkan telapak tangannya)
"Garis jodohku bercabang dan pendek-pendek."
"Artinya aku gak butuh waktu lama untuk menemukan jodoh itu. Tapi sayangnya jodohku itu gak cuma satu."

"Hah?" (memasang wajah kaget)

"Iya, karena garis jodohnya bercabang dan gak cuma satu. Jadi memang butuh usaha."


Jakarta, 4 Oktober 2013
1.14 am