Sabtu, 05 Oktober 2013

Sebuah Ingatan (Part 1)

"Kamu mau diramal gak?"
"Ah. Aku gak percaya ramalan."
"Yaudah deh, gak diramal. Tapi gimana kalau baca garis tangan?"
"Emang kamu bisa?"
"Dulu sih pernah diajarin temen gimana caranya baca garis tangan."
"......."
"Jadi gimana? Mau gak?"
"Boleh deh. Hahaha."

"Ini nih. Yang ini." (menunjuk beberapa garis tangannya, kemudian ia menunjuk garis tangannya yang pendek dan bercabang)
"Kalau yang ini namanya garis jodoh."
"Hari ini aku khusus mau ramal garis jodoh ya?"

"Oke. Jadi gimana garis jodoh saya Bu Peramal?"

"Hmmm, sebentar ya..."

"Apa jangan-jangan aku gak punya jodoh." (berlagak sedih)

"Ada kok. Menurut garis tangan kamu, jodoh kamu itu cuma akan ada satu dan selamanya."

"Wihhh.."
"Yang bener?" (memberikan ekspresi wajah tak percaya)

"Beneran!"
"Liat nih ya." (mengarahkan pandanganku menuju garis tangan yang ia maksud)
"Garis yang diujung ini namanya garis jodoh. Garis jodoh kamu cuma satu."
"Artinya jodoh kamu cuma satu dan untuk selamanya. Tapi..."

"Tapi?"

"Tapi sayangnya garis jodohmu ini panjang."

"Panjang?"

"Iya. Kamu akan butuh waktu lama untuk menemukan jodohmu itu."

"......"

"Liat ya garis jodohku." (menunjukkan telapak tangannya)
"Garis jodohku bercabang dan pendek-pendek."
"Artinya aku gak butuh waktu lama untuk menemukan jodoh itu. Tapi sayangnya jodohku itu gak cuma satu."

"Hah?" (memasang wajah kaget)

"Iya, karena garis jodohnya bercabang dan gak cuma satu. Jadi memang butuh usaha."


Jakarta, 4 Oktober 2013
1.14 am

Tidak ada komentar:

Posting Komentar