Senin, 02 Desember 2013

Terjebak di Dunia Fangirling (Lagi)

Hola!

Pemirsa sekalian dapat salam nih dari Lee Dong Gun "이동건" ahjussi (gw ga tau harus manggil dia apa, tapi kalau gw pribadi sih lebih milih manggil doi oppa :3 *jitak*)
Sebenernya mau banyak ngebahas soal doi di blog ini, tapi berhubung waktunya belum memungkinkan (teringat dengan management event dan CSR) jadi pembahasan mengenai pria cool dan multitalented ini ditunda dulu ya. Hihihi.



Senin, 04 November 2013

Wanita

Mengapa wanita selalu melakukannya?
Jawabannya memang tidak mudah ditemukan, tetapi aku yakin itu menjadi satu-satunya cara (bagiku) untuk menghibur sekaligus menghukum diriku sendiri.

Sabtu, 05 Oktober 2013

Highlight

Sabtu, 19 Januari 2013

Sore hari ini aku kembali menatap langit sambil mengagungkan keindahan ciptaan-Nya yang tak terlukis dengan berjuta kata manis. Seperti biasa, sejenak ku hirup udara sore yang sejuk dan tak terasa degup jantungku menjadi sangat cepat karena tak sabar menanti malam yang akan segera tiba. Ya, entah kenapa aku selalu lebih memilih untuk menunggu malam datang dibandingkan dengan berada di hari yang tak kunjung usai.
Semua hal yang telah aku lalui selama satu tahun terakhir kembali menyeruak dan mengganggu alam sadarku.
"Aku tak yakin ini akan menjadi perjalanan yang sukes, atau paling tidak memberikan sedikit hasil yang menggembirakan bagiku." Pemikiran seperti ini yang selalu menggangguku. Pemikiran yang menggoyahkan rasa percaya diriku. Pemikiran yang mengganggu konsistensiku. Selalu saja begitu. Akan terus sama seperti itu.


******

Sebuah Ingatan (part 2)

"Gimana lo kabar? Makin baik nampaknya, hahaha."

"Baik bang, hahaha."

"Tahun baru nembak lah ya kayaknya."

"Tahun baru kecepetan. Tapi jangan maret juga, maret kelamaan. Pas gw ulang tahun aja kali ya. Hahaha."

"Nah. Ide bagus tuh. Ciee, yang ulang tahun mau dapet kado terindah."

Jakarta, 4 Oktober 2013
1.26 am

Sebuah Ingatan (Part 1)

"Kamu mau diramal gak?"
"Ah. Aku gak percaya ramalan."
"Yaudah deh, gak diramal. Tapi gimana kalau baca garis tangan?"
"Emang kamu bisa?"
"Dulu sih pernah diajarin temen gimana caranya baca garis tangan."
"......."
"Jadi gimana? Mau gak?"
"Boleh deh. Hahaha."

"Ini nih. Yang ini." (menunjuk beberapa garis tangannya, kemudian ia menunjuk garis tangannya yang pendek dan bercabang)
"Kalau yang ini namanya garis jodoh."
"Hari ini aku khusus mau ramal garis jodoh ya?"

"Oke. Jadi gimana garis jodoh saya Bu Peramal?"

"Hmmm, sebentar ya..."

"Apa jangan-jangan aku gak punya jodoh." (berlagak sedih)

"Ada kok. Menurut garis tangan kamu, jodoh kamu itu cuma akan ada satu dan selamanya."

"Wihhh.."
"Yang bener?" (memberikan ekspresi wajah tak percaya)

"Beneran!"
"Liat nih ya." (mengarahkan pandanganku menuju garis tangan yang ia maksud)
"Garis yang diujung ini namanya garis jodoh. Garis jodoh kamu cuma satu."
"Artinya jodoh kamu cuma satu dan untuk selamanya. Tapi..."

"Tapi?"

"Tapi sayangnya garis jodohmu ini panjang."

"Panjang?"

"Iya. Kamu akan butuh waktu lama untuk menemukan jodohmu itu."

"......"

"Liat ya garis jodohku." (menunjukkan telapak tangannya)
"Garis jodohku bercabang dan pendek-pendek."
"Artinya aku gak butuh waktu lama untuk menemukan jodoh itu. Tapi sayangnya jodohku itu gak cuma satu."

"Hah?" (memasang wajah kaget)

"Iya, karena garis jodohnya bercabang dan gak cuma satu. Jadi memang butuh usaha."


Jakarta, 4 Oktober 2013
1.14 am

Selasa, 02 Juli 2013

He Won't Go

Some say I'll be better without you
But they don't know you like I do
Or at least the sides I thought I knew

I can't bear this time

It drags on as I lose my mind
Reminded by things I find
Like notes and clothes you left behind

Wake me up, wake me up when all is done

I won't rise until this battle's won
My dignity's become undone

But I won't go

I can't do it on my own
If this ain't love, then what is?
I'm willing to take the risk

Sabtu, 15 Juni 2013

Yang Dekat dan Terasa Menjauh

"You and me.
We used to be together.
Everyday together always..."

Kamis, 04 April 2013

Sosok Akrab Yang Tak Dikenal

Seperti biasa, hari ini aku menemukan dirimu sedang duduk menunggu di lobi kampus. Entah siapa yang kau tunggu. Jika aku menerka pun pasti hanya akan berakhir pada asumsi. Mana mungkin aku  berani bertanya langsung padamu? Kalaupun aku berani, aku bertaruh kau akan diam membisu dengan tatapan bingung seolah ada orang asing yang tiba-tiba saja datang dan meminta segelas teh yang sedang kau pegang itu. Ya, aku mengamatimu. Sepertinya kau begitu suka dengan aroma teh di sore hari ya? Ah, tidak hanya di sore hari. Sepanjang waktu kau selalu menikmati aroma teh yang sama. Teh hangat yang selalu terisi penuh di dalam gelas kertas yang kau beli di salah satu kedai minuman di sekitar kampus. Kau begitu akrab, bagaikan aroma teh yang kau hirup saat itu. Aroma teh yang juga selalu hadir di setiap pagiku. Aroma teh yang mampu membangkitkan semangat di setiap hariku. Aroma teh yang tak asing, sama seperti sosokmu yang tak aku kenal dengan pasti namun tak henti aku amati. 

Sikap ramahmu yang penuh dengan tebar sapa dan senyum. Sikap diammu juga yang mampu membuat orang-orang di sekitarmu terkadang bingung. Kecerdasan dan kemampuan-mu dalam bidang filsafat, tak urung menjadi salah satu faktor yang mampu membuat dosen menatap kagum. Parasmu? Tak begitu tampan menurutku, hanya saja ada keindahan tersendiri saat menatapmu. Terdengar berlebihan bukan? Percayalah, tak perlu aku melebih-lebihkan seseorang, aku pun tak suka sesuatu yang berlebihan. Aku hanya mampu mendeskripsikan apa yang menjadi kesan pertama saat bertemu dengan seseorang. Hanya saja kesan pertama itu tak pernah hilang, selalu melekat menjadi simbol bagi dirimu.

Kau dan aku ada dalam ruang lingkup yang sama. Lingkungan kita juga tak jauh berbeda. Status yang masih tercatat sebagai mahasiswa. Tapi, ada yang membuatku begitu sulit untuk bersuara dan menyapa namamu. Kau membangun dinding yang cukup tinggi untuk dilompati. Kau memiliki lapisan yang cukup tebal untuk ditembus. Aku seperti melihat diriku pada sosokmu. Seperti ada cermin besar yang memantulkan bayanganku. Mungkin itu juga yang menjadi pandangan orang lain atas diriku? Aku tak begitu paham akan hal itu. Inilah yang menyebabkan aku dan kamu jarang menyapa dalam keramaian ataupun saat sendirian. Kita menjadi sosok akrab yang tak saling mengenal.

(dibuat sebagai pengantar bagi proyek terbaru bersama kedua orang blogger lainnya)

Cheers!
-T-

Rabu, 27 Maret 2013

Am I good or great?

"Try to act as a good person, not a great person."


Sama seperti mereka, aku mencoba memberi yang terbaik dengan harapan mendapatkan yang lebih baik. Teori pertukaran yang lumrah bukan? Teori pertukaran yang menjadikan reward dan punishment sebagai tolak ukur utama dalam hubungan interpersonal manusia.
Namun, sudah beberapa waktu ini ada yang berubah dengan teori itu. Lebih tepatnya, ada seseorang yang merubah keyakinanku atas teori itu. "Cobalah membahagiakan orang lain, memberi sebanyak-banyaknya tanpa harus mengharapkan sesuatu sebagai balasan. Lihat betapa Tuhan memiliki sesuatu yang lebih indah untuk diberikan. Karena kita fokus pada niat tulus dan kebaikan."
Ya, aku mulai meyakininya. Aku mulai merasakan betapa rasa bahagia dapat hadir tanpa adanya keharusan bagi Tuhan untuk memberikan apa yang kita inginkan, tetapi selalu menyediakan apa yang kita butuhkan.

-T-

Senin, 25 Maret 2013

Joy dan Desember

Desember.
Bisa dilihat bahwa tak sedikit manusia yang menyambut bulan sakral penuh suka cita ini. Bulan di mana perayaan natal setiap tahunnya akan terjadi. Dimana setiap umat nasrani merasakan kehangatan dan kebahagiaan dengan sejuta harapan terpanjat kepada Yang Kuasa.

Desember.
Beberapa negara menandai bulan ini dengan turunnya kristal-kristal es dari langit yang jika menyentuh udara bumi akan berubah menjadi butiran-butiran putih bernama salju. Ini unik, musim dingin selalu menghadiahkan tumpukan salju bagi setiap negeri dengan empat musim. Salju yang hadir secara alami.

Desember.
Mungkin di tempatku berpijak kini, tidak ada salju yang menemani. Tapi aku masih bisa menunggu musim penghujan yang akan segera datang. Aku menunggu saat-saat menyenangkan ketika hujan turun hingga kemudian hujan berhenti dan menyisakan aroma khas yang setiap tahunnya selalu kurindukan.

Desember.
Jika umumnya pergantian tahun dimulai dengan bulan Januari yang selalu ramai dengan euforia "happy new year", kali ini rasanya hidupku bermula dari bulan Desember, bukan Januari.

Desember.
Begitu berwarna, begitu menyulutkan api gairah, begitu banyak catatan manis, begitu penuh dengan dukungan dan semangat, awal lahirnya kepercayaan diri yang luar biasa menggebu.

Tapi...
Di sini, di bulan Januari ini.


"Hei, Januari!
Kenapa kau begitu tak bersahabat denganku? Mengapa kau ukirkan masalah tak tertuntaskan yang masih mengambang hingga kini? Haruskah aku menyambutmu dengan hati gembira seperti dulu?" -Joy-


Saat aku mengukir tulisan ini, aku sedang melihat pada setiap kenangan manis yang berayun di memori. Satu potret wajah-wajah dengan senyum sumringah. Kebersamaan yang ditandai dengan genggaman tangan. Pelukan terhangat yang hadir dalam setiap keraguan, setiap resah malam.
Memang, itu hanya terjadi pada Desember kemarin. Karena bagiku, tak ada lagi Januari.



Asumsi (?)

"Aku cuma gak mau asumsi-asumsi mereka mengganggu mimpimu..."

Perduli apa lagi dengan semua mimpi-mimpi itu?
Aku bahkan tak yakin jika masih ada jalan untuk meraih mimpi itu. Sekedar membayangkan, sebatas mengkhayalkan, aku sudah sangat bosan melakukannya. Aku telah berusaha sebisaku untuk meraihnya. Tapi tak banyak yang aku dapatkan. Ya, mungkin aku terlalu serakah. Atau terlalu ambisius hingga tak bersyukur dengan segala kebaikan yang hadir padaku sampai detik ini.

Ah, andai saja aku seorang sosialita yang bisa menembus segala hambatan dengan bekal materi yang kumiliki. Andai aku secerdas para ilmuwan sehingga bisa menemukan rumus cepat, solusi atas segala ketidakpuasan ini. Mungkin aku harus menjadi seekor "kancil" dahulu, demi memikirkan langkah cerdik dan cepat untuk menggapai mimpi-mimpiku.

Kini yang menjadi fokus utamaku adalah bagaimana caranya aku menikmati hari ini, lalu berganti menjadi esok, dan esoknya lagi, seterusnya hingga aku menemukan makna kebahagiaan dari mimpi itu sendiri.

Senin, 18 Maret 2013

I hate (and enjoy) this song...

Aku benci dengan alunan musik ini, karena aku tau arahnya akan menuju satu lagu yang utuh dengan lirik tak menyentuh, namun justru mengusik kenyataan yang sejak lama tak kuhiraukan kehadirannya. Tak mau dia mengusik mimpiku, aku depak dia dari daftar kemungkinan. Tak begitu berguna sebenanrnya, karena faktanya ia memang tak pernah absen hadir dalam setiap mimpi malamku. Aku benci itu. Ya, kebencian yang tak beralasan. Akibat dari ego manusia yang sulit untuk ditahan. 


"Tuan kesepian, tak punya teman. Hatinya rapuh tapi berlagak tangguh.
Nona tak berkawan, tak pernah rasakan cinta. Sungguh pandai berkhayal, mimpi itu alamnya.
Mereka berdua bertemu di satu sudut taman kota.
Berkata tapi tak bicara, masing-masingnya menganalisa."


Mungkin bagi mereka ini hanya sepenggal lirik tak mengena. Namun, beberapa orang bisa saja memaknainya. Sungguh kontradiksi yang luar biasa. Bagaimana kita bisa menikmati sebuah lagu dan ikut bernyanyi sepanjang musik mengalun ketika hati dipenuhi dengan rasa gembira. Akan tetapi di lain waktu, saat hati sedang begitu peka, kita bisa benar-benar merenungi makna dari setiap kata, mencoba mencari kesamaan peristiwa.

Kamis, 14 Maret 2013

Terlanjur Mengukir (Lagi)

Kamis, 14 Maret 2013
(20.20)

Perasaan sepi itu semakin menyeruak ketika malam tiba dan tak lagi nampak keramaian yang biasa menjadi makanan di hari sibukku.

Yang aku tahu, kini aku merasakan kehilangan. Aku kehilangan seseorang.
Ada ruang kosong yang tertinggal, meskipun memorinya akan tetap penuh dengan kenangan indah.

Yang aku ingat, aku pernah menangis di pundaknya dan ia menangis di hadapanku.
Kami menemukan titik lemah masing-masing.
Kami membuka rahasia dalam kediaman.
Kami membagi kebahagiaan melalui kebersamaan.

Di mana dia kini?
Aku pun tak tahu...
Mungkin, dia masih ada di sekitarku. Namun aku tak lagi mampu menyentuhnya dengan lebut seperti dulu.
Mungkin, aku masih bisa menatapnya meski jarak menjauhkan. Namun ia tak lagi berniat menatapku seperti dulu.
Mungkin, sebenarnya kami masih bisa saling tersenyum dan tertawa bebas bersama hari yang terlewat. Namun, kami sama-sama tak tahu lagi bagaimana cara  tertawa yang tulus seperti dulu.

Aku hanya tak ingin kehilangan lagi.
Aku tahu, aku terlanjur mengukir kenangan (lagi) yang tak mungkin ku hapus dari memori ini.
Aku semakin membutuhkanmu. Merasa penuh karena kehadiranmu. Tokohmu telah menjadi bagian dari ceritaku. Senyumanmu berhasil mewarnai hariku.
Dan terakhir kali, beberapa waktu yang lalu, kau sempat melihatku menangis hingga kemudian kau ikut menangis. Aku menangis bersamamu. Kau menangis bersamaku.
Rahasia terbesarmu, ceritamu, keseharianmu, sebagian sifat buruk dan baikmu, kekonyolan polosmu, semuanya. Aku sudah tak mampu laghi menghapusnya dari memori. Aku terlanjur mengukirnya lagi.

Aku tak ingin kehilangan lagi.
Jika kau membaca ini, jangan pernah berpikir aku mengharap sesuatu yang lebih darimu. Aku hanya tak ingin kehilangan pegangan lagi.
Berjanjilah, sejauh apapun jarak dan waktu memisahkan jiwa dan diri, kita akan tetapmenjadi "aku" dan "kamu" yang seperti ini.

-T-

Cinta Dalam Sekotak Kismis

"Coba kamu rasakan. Rasa asamnya berbeda dari rasa asam buah stroberi. Kismis memiliki rasa yang jauh lebih asam dengan sedikit sensasi rasa pahit. Berbeda dengan buah stroberi yang justru memiliki rasa manis dengan sensasi rasa asam yang menggelitik kita untuk mencoba lagi, lagi, dan lagi."

"........"

"Tapi, uniknya kismis dan stroberi itu 'gak bisa dimakan berbarengan, karena rasanya 'gak akan cocok. Kismis itu berteman dengan coklat, rasa mereka akan jadi lebih unik."

"........"

"Masih mau dicampur kismis atau buah stroberi nih?"

"Kalau memang kismis 'gak berteman dengan stroberi, kenapa masih ada orang yang justru suka kedua-duanya?"

"Siapa bilang mereka 'gak berteman? Aku cuma bilang kalau mereka punya sensasi rasa yang berbeda."

"Aku bodoh."

"Kenapa begitu?"

"Aku bahkan 'gak tahu hal sesederhana itu. Aku bahkan 'gak bisa membedakan rasa kismis dengan rasa stroberi. Aku terus dan selalu berpikir bahwa aku yang paling mengerti dan memahami. Pada kenyataannya, aku bahkan 'gak pernah mencoba menyukai keduanya."

"Kalau kamu 'gak suka, kenapa kamu ngotot mau bikin ini?"

"Nggak tau."

"Kamu bisa suka sesuatu kalau kamu mau. Kamu bisa melakukan sesuatu selama ada niat di hatimu. Kamu akan berhasil jika kamu memberikan usaha yang sepadan dengan hasilmu."

"Maksudnya?"

"Kamu tau kamu 'gak suka kismis ataupun stroberi, tapi kamu berusaha keras untuk bisa suka dengan kedua-duanya, berarti ada yang mempengaruhi kamu untuk suka dengan keduanya kan?"

"Bukannya aku 'gak suka dengan kismis ataupun stoberi, aku cuma mencoba untuk lebih suka dengan keduanya kok."

"Oke, kamu menang. Should we start now?"

"Ajari aku. Ajari aku untuk lebih menyukai keduanya. Ajari aku mengerti bahwa keduanya berbeda namun sama-sama menawarkan rasa yang menarik."

"Mereka asam lho.."

"Sejauh apa aku perduli dengan rasa asam itu? Yang aku tahu ada seseorang di luar sana yang menyukai keduanya. Dan aku tahu ternyata aku menyukai orang itu."

"Karena itu kamu mencoba untuk menyukai kismis dan stoberi?"

"Mungkin.."

"Salah. Jawabannya: Ya."

"........."

"Suka? Hanya sebatas perasaan suka?"

"Apalagi kalau bukan rasa suka?"

"Perasaan yang lainnya? Kagum mungkin? Atau..."

"Atau cinta? Begitu kan maksudnya?"

"Paling tidak kamu mengakuinya tanpa aku paksa. Hahahahaha."

"........."

"Ngomong-ngomong, di mana kamu menemukan rasa cinta itu?"

"........."

".......?"

"Di dalam sekotak kismis."

Ada Yang Berubah Dari Duniaku

Rabu, 13 Maret 2013
(00.30)

"Bau tanah setelah hujan di pagi hari, menguar aroma khas namun penuh dengan kesedihan..
Angin sore yang menerpa, mengusap lembut pipi yang selalu tanpa polesan..

Taburan bintang di langit malam yang kosong bagaikan kain hitam polos tanpa sentuhan.."

Sore kedua di hari ke tiga belas pada bulan ketiga tahun ini, tak ada yang berubah.
Segala sesuatu yang kusukai, setiap hal yang mengganggu pikiranku, semua peristiwa yang terjadi selama setahun belakang, aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Tak ada yang berubah, sama sekali.
Hingga aku menyadari, suasana di sekitarku, lingkungan terdekatku dan mereka yang ada di di dalam kehidupanku. "Mengapa rasanya semakin berbeda?" aku tak tahan lagi untuk tak bertanya.
Aku bosan dengan kebingunganku. Aku bosan menunggu, menunggu ada yang menjelaskan kepadaku, bahwa ada yang berubah dari duniaku.
Ya, ada yang berbeda. Ternyata dari segala hal di dunia, ada satu yang akan selalu dan pasti berubah. Itu mereka, manusia. Mereka yang ada di dalam kehidupanku. Mereka yang masuk dan kemudian pergi mengisi hari-hariku.

-T-


Minggu, 10 Maret 2013

Mimpi

"Apa yang kita cari dari hidup ini?
Apa yang manusia harapkan pada setiap hari yang ia jalani?
Tak ada yang tau pasti kecuali manusia itu sendiri. Dimana jiwa-jiwa manusia tersebut bagaikan sebuah labirin. Memiliki begitu banyak sudut dan pintu. Berliku bagaikan arus anak sungai yang menuju hulu. Karena sejatinya hidup ini adalah sebuah proses panjang dalam menemukan dan mewujudkan mimpi."


Senin, 11 Februari 2013

Dimas (bagong), my hero..

Bahagia itu sederhana lohh..
Apalagi bahagia itu datang ketika kita mendapatkan perhatian lebih dari seseorang yang kita sayang, hohoho.
Apalagi kalau orang itu biasanya bersikap cuek sama kita.

Bayangin aja kalau dia tiba-tiba bisa bersikap sangat manis dan perhatian, that's so sweet, hihihi =)

Dan itu yang terjadi hari ini. Di tengah kesuntukan gara-gara KRS yang bermasalah, gw dikejutkan dengan ice cream disc cornetto yang hadir di dalam freezer lemari es alias kulkas hahaha.
Tebak aja itu ice cream dari siapa. Dari my lovely dearest little brotha, Dimas. How sweet, hohoho.
Dia sengaja beliin gw ice cream itu abis pulang sekolah. "Katanya mbak lagi galau, suntuk. Yaudah, aku beliin aja ice cream," tetap dengan wajah cueknya.
Awwww, perhatian sekali dia.





Strawberry ice cream =)
Love you, bagong..
Love you, dek.. *kiss* 


Te Amo <3 hihihi



Rabu, 06 Februari 2013

Give Your Heart a Break

The day I first met youYou told me you’d never fall in loveBut now that I get youI know fear is what it really was
Now here we areSo close yet so farHow did I pass the testWhen will you realiseBaby, I’m not like the rest
Don’t wanna break your heartWanna give your heart a breakI know you’re scared it’s wrongLike you might make a mistakeThere’s just one life to liveAnd there’s no time to wait, to wasteSo let me give your heart a break, give your heart a breakLet me give your heart a break, your heart a breakOh yeah, yeah
On Sunday you went home aloneThere were tears in your eyesI called your cell phone, my loveBut you did not reply
The world is ours if you want itWe can take it if you just take my handThere’s no turning back nowBaby, try and understand
Don’t wanna break your heartWanna give your heart a breakI know you’re scared it’s wrongLike you might make a mistakeThere’s just one life to liveAnd there’s no time to wait, to wasteSo let me give your heart a break, give your heart a breakLet me give your heart a break, your heart a break
There’s just so much you can takeGive your heart a breakLet me give your heart a break, your heart a breakOh yeah, yeah
When your lips are on my lipsAnd our heats beat as oneBut you slip out of my fingertipsEvery time you run, whoa.. oh.. whoa.. oh.. oh
Don’t wanna break your heartWanna give your heart a breakI know you’re scared it’s wrongI know you’re scared it’s wrongLike you might make a mistakeThere’s just one life to liveAnd there’s no time to wait, to wasteSo let me give your heart a break(Let me give your heart a break)
‘Cause you’ve been hurt beforeI can see it in your eyesYou try to smile it away, some things you can’t disguiseDon’t wanna break your heartBaby, I can ease the ache, the acheSo let me give your heart a break, give your heart a breakLet me give your heart a break, your heart a break
There’s just so much you can takeGive your heart a breakLet me give your heart a break, your heart a break(Oh babe)Oh yeah, yeah
The day I first met youYou told me you’d never fall in love

(Demi Lovato - Give Your Heart a Break)


Jumat, 25 Januari 2013

Sewindu

Sudah sewindu ku di dekatmu
Ada di setiap pagi, di sepanjang hari
Tak mungkin bila engkau tak tahu
Bila ku menyimpan rasa yang ku benam sejak lama

Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita

Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

Setiap pagi ku menunggu di depan pintu
Siapkan senyum terbaikku agar cerah harimu
Cukup bagiku melihatmu tersenyum manis
Di setiap pagimu, siangmu, malammu

Sesaat dia datang pesona bagai pangeran
Dan beri kau harapan bualan cinta di masa depan
Dan kau lupakan aku semua usahaku
Semua pagi kita, semua malam kita

Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu

Jujur memang sakit di hati
Bila kini nyatanya kau memilih dia
Takkan lagi ku sebodoh ini
Larut di dalam angan-angan tanpa tujuan

Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
Oh tak akan lagi ku menemuimu di depan pintu
Dan tak ada lagi tutur manis ku merayumu
(Tulus - Sewindu)

Jakarta, 25 Januari 2013
(18.30)

Jumat, 18 Januari 2013

Happy New Year ^^

Tiba-tiba kepengen posting foto-foto ini. Foto-foto pas tahun baru kemarin. Melewati malam tahun baru yang sederhana bersama teman-teman terdekat yang membuat luar biasa bahagia.

Thank you, master ^^
Bersama dengan Iman..
(Master says, "good bye bad memories, good bye bad experiences, good bye bad people!!")

Cheers! 
 Foto keluarga bersama Iman, Angga, Via, Pera, dan Ka Ayu. Keliling Grand Indonesia sambil menunggu hujan reda, haha. Agak ga nyangka juga sih ternyata bakalan hujan malam itu, huhu :(
(Tapi seneng sih, soalnya meskipun hujan paling tidak ga perlu hampa di kostan *lols)

Foto di depan cermin = seperti anak alay, hahaha
Kali ini di Ex, dengan personil yang cukup lengkap. Bersama ka Kiky, ka Aril, ka Ayu, Iman, Pera, Angga, dan Via.
(Entah itu di lantai berapa, yang pasti kita bener-bener pede buat foto-foto di hadapan cermin besar yang bisa diliat langsung oleh khalayak umum. Ide gilanya Iman nihh -_-)


Angga, Pera, Iman, dan Via
Nah, kembali lagi foto keluarga di GI dan kali ini tanpa gw.
(Perkenalkan pasangan baru kita. Angga  Pera, Iman ♥ Via. Hahaha XD *evil laugh*)

Nice pose, hohoho
1, 2, 3.. say "kimchi"! =)
Foto-foto ini sih kayanya diambil pas di deket bundaran HI deh..
Foto 1: Via dan ka Ayu
Foto 2: Via, ka Kiky, Pera, gw, ka Ayu

Family! *kiss*
Last but not least, ini foto kenang-kenangan sebelum kembang api tahun baru diluncurkan, hahaha. Agak absurd emang fotonya, tapi bernilai seni tinggi kan?
Liat tuh ekspresi gw dan Pera kompak, gaya ka Icha dan ka Galang yang kocak *aneh sih lebih tepatnya*, dan pose Angga serta Via yang sehati *ihiww*

-T-