Sabtu, 15 Juni 2013

Yang Dekat dan Terasa Menjauh

"You and me.
We used to be together.
Everyday together always..."

-----

Sudah sejak dua jam yang lalu coffee shop tersebut sepi dari pengunjung. Hari semakin sore dan matahari tak tampak jelas lagi di langit yang mendung. Selama hampir dua jam pula hujan mengguyur. Hujan menahan Erin untuk kembali ke apartemennya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memesan secangkir hot cappuccino dan berniat menulis kembali skripsi yang dalam beberapa hari ini terabaikan. 

Erin mengambil tempat duduk yang berada di sudut ruangan. Ia duduk dekat dengan kaca besar yang mengarahkan pandangannya tepat ke luar coffee shop tersebut. Ia melihat orang berlalu lalang. Beberapa orang berjalan dengan tergesa, sedangkan yang lainnya terlihat berjalan dengan santai.

Hujan tampaknya begitu akrab dengan ibukota akhir-akhir ini. Hampir setiap hari selalu saja hujan turun dan membuat Erin harus lebih waspada. Karena jika Erin secara tiba-tiba terserang flu dan demam tinggi atau berbagai penyakit musiman lainnya maka habislah ia. Begitu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan dalam dua bulan ini, ia tak boleh tumbang meski hanya sehari saja.

Sedetik kemudian Erin teringat sesuatu, sebuah peristiwa yang sempat menjadi titik balik di dalam kehidupannya. Ia tak menyangka bahwa peristiwa tersebut bahkan telah hampir lima bulan berlalu. 

Erin: Berapa lama aku mengacuhkan waktu?
Aku tak mengerti apa guna kalender elektronik. Aku bahkan tak ingat kapan persisnya peristiwa itu terjadi.
Memori-ku begitu lamban menerima sensor.
Bukankah ini tempat yang sama ketika terakhir kali aku menangis sendiri dalam keperdulian yang begitu dalam bagi orang lain?


------

"I'm afraid it will happen.
I'm scared that you'll leave.
I try to say it won't be that way and smile.
But tears flow from my eyes."



------

Kini, empat jam sudah Erin menggenggam cangkir kopinya yang masih terisi penuh. Tak setetes pun ia menikmati hot cappuccino yang ia pesan. Bahkan skripsi yang semula menjadi prioritasnya tak terjamah sama sekali. 

Erin: Kau bersikap seolah tak terjadi apapun di antara kita. Yang ada hanya sebuah ingatan akan kebahagiaan, terjalin di antara dunia mereka dan mereka yang lainnya.  Kita menciptakan dunia kita sendiri. Dimana kita membuka kotak hadiah yang penuh dengan permen manis, berbagai jenis coklat, dan kertas warna-warni. Begitu indah. Kita kembali menjadi anak-anak yang setiap harinya hanya bermain dan tertawa.

------

"When you told me that you only wanted me
When you promised me that you'd protect me.
All those things are just turning into a mere blank expression on your face.
All those days when I only looked upon you.
Today has come so easily like the waves of the sea.
You will smile as if nothing is wrong."


------

Erin mengambil handphone-nya yang tergeletak di atas meja. Ia mencari sebuah nama di daftar kontak telepon. Kemudian menuliskan sebuah pesan singkat yang ditujukan kepada kontak tersebut.

"I am a drama queen, right?
Sensitive, arrogant, and stubborn.
I am sorry. I'll try my best to fix it."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar