Minggu, 30 Desember 2012

Untitled

Ketika dihadapkan pada dua kesempatan, akan lebih baik tidak menggenggam salah satunya dengan terlalu erat.
Karena ketika hal tersebut kita lakukan, maka salah satu kesempatan akan menghilang dari hadapan kita.
Dan ketika kesempatan yang kita prioritaskan ternyata mengecewakan kita, maka tidak akan ada lagi kesempatan yang tersisa dan menjadi tumpuan kita.

Inilah yang terjadi ketika "persahabatan" dan "cinta" beradu dalam satu arena yang sama.
Mereka mungkin memiliki kedudukan yang sama di luar pertandingan, namun harus ada yang "menang" dan "kalah" ketika bel pertarungan dimulai.
Akan ada yang memegang kekuatan lebih sehingga saling menjatuhkan tak terhindarkan.
Ini juga yang meyakinkan banyak orang tentang kebenaran suatu penelitian yang menyatakan bahwa "ketika kita jatuh cinta, maka setidaknya kita akan kehilangan dua orang sahabat."

Kepercayaan dan kasih sayang yang tumbuh di dalam "persahabatan" dan "cinta" akan menjadi senjata paling ampuh yang menghancurkan ketika kita benar-benar tidak siap.
Berada di lingkaran ini menjadi perjalanan paling melelahkan namun mendewasakan.
Sehingga, hasil akhirnya pun tetap sama. Jangan menggenggam sesuatu terlalu erat, karena hal itu akan membuat kita kehilangan sesuatu yang lainnya.
Jangan pernah memilih "cinta" atau "persahabatan", karena keduanya menjadi kebutuhan dalam hidup kita.

-T-

Senin, 17 Desember 2012

"Lain kali jangan terlalu sibuk ya? Harus selalu jaga kesehatan, dan makan teratur. Get well soon."

------

"Apa kabar kamu yang di sana? Di luar cuaca mendung dan berawan, jangan lupa payung-nya ya."

------

"Selamat ya, kamu sudah berusaha dengan keras. Ini hasil jerih payahmu, kamu pantas mendapatkannya."

~ Hati Biru ~

(PART 1)


Selangkah menuju masa depan. Maju bersama angan-angan. Meniti langkah dengan penuh kepastian. Prinsip hidup adalah yang utama dan akan terus ia pegang. Percaya diri dan ketekunan selalu ia angap sebagai kunci kesuksesan. Satu tujuan yang ia kejar, sukses tanpa ada penyesalan. Satu impian yang selalu ia khayalkan, bahagia bersama seseorang yang ditakdirkan.

****

*ringtone: Breathless*

"Andrea!!" 
"Mesti ya aku bangunin kamu tiap pagi-pagi buta gini?"
(Sambungan telepon itu membangunkan Andrea dari mimpi indahnya. Suara Kadek -- sahabat yang sangat setia mendukung setiap cita-citanya, sahabat yang tahu kapan Andrea membutuhkannya, sahabat yang bisa membaca setiap pikiran Andrea meski hanya dengan menatap mata kosongnya.)

"Oke, makasih ya Dek.. Tapi please, jangan ngomel-ngomel lahh pagi-pagi begini. Mendingan sekarang kamu pasang stopwatch. Trus ntar kabarin aku lewat sms aja, byeeee..."
(Andrea sudah hampir memutus sambungan telepon dari Kadek itu, lalu...)
"Oh iya, You're the best!! hahahaha, bye..."
(Andrea langsung menuju kamar mandi untuk segera bersiap merancang masa depannya bersama dengan setumpuk buku pelajaran dan ceramah panjang dari Bu Shinta, Pak Dodi, Bu Elsa, dan Pak Rizal di sekolah hari ini.)

(Sedangkan Kadek? Anggap saja ia sedang mengalami masa-masa tersulit dalam hidupnya karena harus merasakan kebimbangan antara terpaksa terus menjadi alarm pagi bagi Andrea atau justru menjadi guru privatnya.)

 ****

Hari demi hari. Tiap satuan menit dan detik. Bersama dengan hembusan nafas yang masih Tuhan percayakan kepadanya. Ia masih terus berjalan, meniti masa depan. Banyak yang harus ia korbankan, dengan begitu akan ada pencapaian.  Banyak yang terpaksa ia lewatkan, agar di masa depan tak ada satupun kisah manis perlu ia sia-siakan. Banyak usaha yang ia keluarkan, dengan harapan Tuhan memberikan lebih dari apa yang ia doakan dalam setiap renungan. Satu per satu penghuni baru masuk ke dalam kehidupannya, sama halnya ketika ia menjadi penghuni baru bagi kehidupan orang lain.

-Mereka datang dan mereka (yang lainnya) pergi. Ada yang hilang dan terganti. Satu waktu aku terpaksa menerima pahit ucapan "Selamat Tinggal", dan itu membuatku tak mudah terbuai dengan sapaan "Hai" di setiap awal perjumpaan. Aku jadi mengerti, bahwa dunia tak hanya selalu tersenyum pada kita. Dan untuk membuatnya tetap tersenyum, aku mencoba untuk menghargai duniaku. Menghargai kehidupanku.-

****

Hari ini genap sudah 10 tahun sejak kejadian itu. Namun, Andrea masih mampu mengingatnya dengan jelas. Suara cempreng Kadek dengan bawelnya yang khas. Terkadang Andrea terpaksa menutup telinga karena bosan dengan suara itu, tapi ketika suara itu tak ia dapati memanggilnya, memarahinya, ataupun memaparkan nasehat logis kepadanya akhirnya Andrea sadar, ia merindukan suara itu.
Ya, Andrea begitu merindukannya. Wajah dan senyum yang memberikan kedamaian, rangkulan serta pelukan yang mengandung kelembutan, suara dan nyanyian yang begitu nyaman ia dengarkan.

"Aku sadar, ketika aku berbalik kebelakang dan melihat segala kenangan, ternyata dari sekian banyak sosok yang ada, hanya wajahmu yang mampu aku ingat dengan begitu sempurna. Aku merindukanmu, Kadek. Ya, Andrea yang tangguh ini begitu merindukanmu. Andrea yang selalu berjanji untuk tidak menghubungimu selama ia berada di Jakarta, karena ia bosan dengan suara cemprengmu. Jelas sekali, bahwa semua janji itu palsu, atau candaan lebih tepatnya. Karena nyatanya, aku begitu merindukanmu Kadek."

Tangan kanan Andrea bergetar sedikit ketika melipat kertas surat yang akhirnya selesai ia tulis itu. Tak tahan dengan getaran tersebut, otak Andrea dengan cepat memerintahkan tangan kirinya untuk menahan getaran si tangan kanan. Hanya saja, semakin ia mencoba menahan justru tubuh Andrea terasa semakin berguncang. Getaran itu terus menjalar ke kaki -- ke jari-jarinya -- hingga seluruh tubuhnya pun bergetar.
Akhirnya, ia menyerah. Andrea mengaku kalah. Ia bukan wanita tangguh seperti yang selalu ia sugestikan kepada dirinya sendiri, seperti yang semua orang pikirkan selama ini. Ia jatuh terduduk di lantai kamar apartemennya. Dengan tatapan mata yang masih sama seperti sebelumnya, kosong.

"Kadek, wanita tangguh ini menangis. Lucu ya?"
(Andrea sempat mengusap kelopak matanya yang hampir basah oleh air mata, lalu berusaha tertawa. Namun tawa itu begitu dipaksakan, terasa begitu hambar.)
"Maaf Kadek, maaf... Maaf, saat itu aku tidak berada di sisimu. Maaf aku tidak bisa melihat senyuman terakhirmu. Maaf, aku begitu bodoh mengira kalau aku telah memahamimu selama ini. Ternyata, aku perlu mendalami hatimu lebih.. lebih.. dan lebih.."

Sore itu, di lantai kamar apartemen dengan nomor 113, Andrea menangis sejadi-jadinya. Ini kali pertama ia menangis begitu hebat sejak malam itu. Malam dimana ketika ia harus kehilangan eyang putri-nya untuk selamanya karena umurnya yang semakin menua, karena tubuhnya yang telah semakin renta. Dan kini, Andrea kembali menangis. Hanya ada satu nama yang menjadi penyebab kesedihan dan penyesalan terdalam yang ia rasakan saat ini. Nama yang kini hanya tinggal ukiran, melekat indah di atas batu nisan. Kadek.

-To Be Continue-

Rabu, 12 Desember 2012

Rabu, 12 Desember 2012
11.35 pm

Sudah gelap...
Mungkin sudah malam?
Sepertinya begitu. Ya, aku harap ini memang telah menuju malam.
Karena jika tidak, maka dugaan akan kesendirian ini semakin mendekati kebenaran.
Sendiri? Menyedihkan bukan?
Banyak manusia yang masih belum bisa menghadapi kenyataan akan "kesendirian" ini.
Tapi faktanya,"tunggal" yang mutlak itu tidak ada. Kenapa?
Mari kita jabarkan dan luruskan pemahaman tersebut..

"Aku", "kamu", "dia", "kalian", "kita". Jamak intinya.
Jika ingin disimpulakan lebih jauh lagi, tidak ada yang tunggal di dunia ini..
Lalu, bagaimana dengan "aku", "kamu", dan "dia"?
Bukankah jika "aku" dan "kamu" bersatu maka akan menjadi "kita". Seperti halnya "aku" dan "dia" yang bisa menjadi "kami", serta "kamu" dan "dia" yang bisa menjadi "kalian".
Nyatanya, "kita" ataupun "kalian" pun jamak bukan?
Lalu, bagaimana jika "aku" dan "kamu" sama-sama berdiri sendiri? Tanpa saling menguatkan satu sama lain, tanpa perpaduan, tanpa ada ikatan ataupun jalinan?
Maka, Tuhan menjadi penggenap-nya. "Aku" yang tak bisa berdiri sendiri tanpa Tuhan. Begitupun "kamu" yang selalu berjalan bersama kasih sayang Tuhan.

Lalu, mengapa aku harus takut akan "kesendirian"?
Selama Tuhan masih ada, selama cahaya tidak memudarkan bayangan, tidak ada "tunggal" yang mutlak di dunia ini...

-T-

Rabu, 17 Oktober 2012

Welcome to Indonesia SeungGi ^^




http://www.vingle.net/posts/61516

aduhhh cucok deh ya cyinn, ini cowo akhirnya mampir juga ke Indo *hiks.hiks* (terharu)
setelah sekian lama menantinyaaaaa  XD akakakaka
sebenernya sh rasanya sulit banget buat dateng ke fanmeeting-nya SeungGi, secara tepat di bulan november bakal ada UTS (kalo ga inget UTS udah lari ke mall TA kali kemaren rempong cari tiketnya) --"
makanya saya mengurungkan niat buat beli tiket reguler-nya (halahalah, reguler aja sombong --a)
tapi berhubung vingle ngadain eh, ngga ngadain sih tapi memberi kesempatan bagi siapa aja (terutama AIREN ^^) yang pengen bgt dtg ke fanmeet SeungGi di tanggal 4 November nanti dengan memberikan DUA (tolong dicatet!! hanya D-U-A) tiket VIP (catet lagi, V.I.P boo!!) bagi siapa saja yang beruntung...

*hening*
*krik krik krik*


KYAAAAAAA!!!! (efek lebay) ~('ε'~) (~'з')~

siapa yang ngga girang coba??
kapan lagi kan bisa menangin tiket VIP fanmeet SeungGi yang harganya sejuta (red: Rp 1 juta) itu..apalagi kalo bisa dapet tiket VVIP yang harganya sejuta delapan ratus (red: Rp 1,8 juta) (harganya hina (╥﹏╥) huaaaaa)
akhirnya, pertahanan saya pun runtuh, mulai deh ng-share link vingle itu, sampe bengkak ini sepuluh jari tangan (lebaynya mulai -_-)

kira-kira beginilah tata panggung dan seat buat pengunjungnya

credit: rajakarcis.com

Yasudahlah, gw masih harus nyelesein presentasi dan essai dulu ini..
Babang UGI!!!! wait me yowww, hahahaha XD *cium jarak jauh* ☺♥