Senin, 17 Desember 2012

"Lain kali jangan terlalu sibuk ya? Harus selalu jaga kesehatan, dan makan teratur. Get well soon."

------

"Apa kabar kamu yang di sana? Di luar cuaca mendung dan berawan, jangan lupa payung-nya ya."

------

"Selamat ya, kamu sudah berusaha dengan keras. Ini hasil jerih payahmu, kamu pantas mendapatkannya."

~ Hati Biru ~

(PART 1)


Selangkah menuju masa depan. Maju bersama angan-angan. Meniti langkah dengan penuh kepastian. Prinsip hidup adalah yang utama dan akan terus ia pegang. Percaya diri dan ketekunan selalu ia angap sebagai kunci kesuksesan. Satu tujuan yang ia kejar, sukses tanpa ada penyesalan. Satu impian yang selalu ia khayalkan, bahagia bersama seseorang yang ditakdirkan.

****

*ringtone: Breathless*

"Andrea!!" 
"Mesti ya aku bangunin kamu tiap pagi-pagi buta gini?"
(Sambungan telepon itu membangunkan Andrea dari mimpi indahnya. Suara Kadek -- sahabat yang sangat setia mendukung setiap cita-citanya, sahabat yang tahu kapan Andrea membutuhkannya, sahabat yang bisa membaca setiap pikiran Andrea meski hanya dengan menatap mata kosongnya.)

"Oke, makasih ya Dek.. Tapi please, jangan ngomel-ngomel lahh pagi-pagi begini. Mendingan sekarang kamu pasang stopwatch. Trus ntar kabarin aku lewat sms aja, byeeee..."
(Andrea sudah hampir memutus sambungan telepon dari Kadek itu, lalu...)
"Oh iya, You're the best!! hahahaha, bye..."
(Andrea langsung menuju kamar mandi untuk segera bersiap merancang masa depannya bersama dengan setumpuk buku pelajaran dan ceramah panjang dari Bu Shinta, Pak Dodi, Bu Elsa, dan Pak Rizal di sekolah hari ini.)

(Sedangkan Kadek? Anggap saja ia sedang mengalami masa-masa tersulit dalam hidupnya karena harus merasakan kebimbangan antara terpaksa terus menjadi alarm pagi bagi Andrea atau justru menjadi guru privatnya.)

 ****

Hari demi hari. Tiap satuan menit dan detik. Bersama dengan hembusan nafas yang masih Tuhan percayakan kepadanya. Ia masih terus berjalan, meniti masa depan. Banyak yang harus ia korbankan, dengan begitu akan ada pencapaian.  Banyak yang terpaksa ia lewatkan, agar di masa depan tak ada satupun kisah manis perlu ia sia-siakan. Banyak usaha yang ia keluarkan, dengan harapan Tuhan memberikan lebih dari apa yang ia doakan dalam setiap renungan. Satu per satu penghuni baru masuk ke dalam kehidupannya, sama halnya ketika ia menjadi penghuni baru bagi kehidupan orang lain.

-Mereka datang dan mereka (yang lainnya) pergi. Ada yang hilang dan terganti. Satu waktu aku terpaksa menerima pahit ucapan "Selamat Tinggal", dan itu membuatku tak mudah terbuai dengan sapaan "Hai" di setiap awal perjumpaan. Aku jadi mengerti, bahwa dunia tak hanya selalu tersenyum pada kita. Dan untuk membuatnya tetap tersenyum, aku mencoba untuk menghargai duniaku. Menghargai kehidupanku.-

****

Hari ini genap sudah 10 tahun sejak kejadian itu. Namun, Andrea masih mampu mengingatnya dengan jelas. Suara cempreng Kadek dengan bawelnya yang khas. Terkadang Andrea terpaksa menutup telinga karena bosan dengan suara itu, tapi ketika suara itu tak ia dapati memanggilnya, memarahinya, ataupun memaparkan nasehat logis kepadanya akhirnya Andrea sadar, ia merindukan suara itu.
Ya, Andrea begitu merindukannya. Wajah dan senyum yang memberikan kedamaian, rangkulan serta pelukan yang mengandung kelembutan, suara dan nyanyian yang begitu nyaman ia dengarkan.

"Aku sadar, ketika aku berbalik kebelakang dan melihat segala kenangan, ternyata dari sekian banyak sosok yang ada, hanya wajahmu yang mampu aku ingat dengan begitu sempurna. Aku merindukanmu, Kadek. Ya, Andrea yang tangguh ini begitu merindukanmu. Andrea yang selalu berjanji untuk tidak menghubungimu selama ia berada di Jakarta, karena ia bosan dengan suara cemprengmu. Jelas sekali, bahwa semua janji itu palsu, atau candaan lebih tepatnya. Karena nyatanya, aku begitu merindukanmu Kadek."

Tangan kanan Andrea bergetar sedikit ketika melipat kertas surat yang akhirnya selesai ia tulis itu. Tak tahan dengan getaran tersebut, otak Andrea dengan cepat memerintahkan tangan kirinya untuk menahan getaran si tangan kanan. Hanya saja, semakin ia mencoba menahan justru tubuh Andrea terasa semakin berguncang. Getaran itu terus menjalar ke kaki -- ke jari-jarinya -- hingga seluruh tubuhnya pun bergetar.
Akhirnya, ia menyerah. Andrea mengaku kalah. Ia bukan wanita tangguh seperti yang selalu ia sugestikan kepada dirinya sendiri, seperti yang semua orang pikirkan selama ini. Ia jatuh terduduk di lantai kamar apartemennya. Dengan tatapan mata yang masih sama seperti sebelumnya, kosong.

"Kadek, wanita tangguh ini menangis. Lucu ya?"
(Andrea sempat mengusap kelopak matanya yang hampir basah oleh air mata, lalu berusaha tertawa. Namun tawa itu begitu dipaksakan, terasa begitu hambar.)
"Maaf Kadek, maaf... Maaf, saat itu aku tidak berada di sisimu. Maaf aku tidak bisa melihat senyuman terakhirmu. Maaf, aku begitu bodoh mengira kalau aku telah memahamimu selama ini. Ternyata, aku perlu mendalami hatimu lebih.. lebih.. dan lebih.."

Sore itu, di lantai kamar apartemen dengan nomor 113, Andrea menangis sejadi-jadinya. Ini kali pertama ia menangis begitu hebat sejak malam itu. Malam dimana ketika ia harus kehilangan eyang putri-nya untuk selamanya karena umurnya yang semakin menua, karena tubuhnya yang telah semakin renta. Dan kini, Andrea kembali menangis. Hanya ada satu nama yang menjadi penyebab kesedihan dan penyesalan terdalam yang ia rasakan saat ini. Nama yang kini hanya tinggal ukiran, melekat indah di atas batu nisan. Kadek.

-To Be Continue-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar