Senin, 18 Maret 2013

I hate (and enjoy) this song...

Aku benci dengan alunan musik ini, karena aku tau arahnya akan menuju satu lagu yang utuh dengan lirik tak menyentuh, namun justru mengusik kenyataan yang sejak lama tak kuhiraukan kehadirannya. Tak mau dia mengusik mimpiku, aku depak dia dari daftar kemungkinan. Tak begitu berguna sebenanrnya, karena faktanya ia memang tak pernah absen hadir dalam setiap mimpi malamku. Aku benci itu. Ya, kebencian yang tak beralasan. Akibat dari ego manusia yang sulit untuk ditahan. 


"Tuan kesepian, tak punya teman. Hatinya rapuh tapi berlagak tangguh.
Nona tak berkawan, tak pernah rasakan cinta. Sungguh pandai berkhayal, mimpi itu alamnya.
Mereka berdua bertemu di satu sudut taman kota.
Berkata tapi tak bicara, masing-masingnya menganalisa."


Mungkin bagi mereka ini hanya sepenggal lirik tak mengena. Namun, beberapa orang bisa saja memaknainya. Sungguh kontradiksi yang luar biasa. Bagaimana kita bisa menikmati sebuah lagu dan ikut bernyanyi sepanjang musik mengalun ketika hati dipenuhi dengan rasa gembira. Akan tetapi di lain waktu, saat hati sedang begitu peka, kita bisa benar-benar merenungi makna dari setiap kata, mencoba mencari kesamaan peristiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar