Mengapa wanita selalu melakukannya?
Jawabannya memang tidak mudah ditemukan, tetapi aku yakin itu menjadi satu-satunya cara (bagiku) untuk menghibur sekaligus menghukum diriku sendiri.
Tidak. Tidak semua wanita menangkap hal tersebut sebagai suatu keadaan positif. Banyak yang akhirnya mengurungkan diri atau bahkan mundur atas kesadaran diri. Mereka jenuh dan marah, ada tuntutan akan harga diri yang lebih tinggi. Tetapi tidak denganku, aku memilih menahan tangis dan kemudian bersandar pada satu-satunya tiang yang tersisa. Keyakinan itu.
Mungkin inilah hasil dari hari-hari yang kuhabiskan untuk menonton drama dan berkhayal ria. Ya, aku adalah seorang "drama queen." Namun aku cukup realistis untuk menyadari bahwa duniaku benar-benar nyata. Hanya terkadang tertimpa bumbu-bumbu delusi yang mengacaukan suasana.
Ya, sekali lagi aku menyadari bahwa tak perlu pengalaman pahit untuk mengerti bahwa keadaan bisa saja menjadi musuh terbesar dan terburukmu.
******
Arya menyelesaikan kalimat terakhir dalam novelnya dengan penuh semangat, hingga titik penutup terjamah dan senyum puas membentuk di wajahnya. Ini pertama kalinya ia membuat sebuah novel dengan tema "wanita." Menulis novel seperti ini tidaklah mudah, bagaimana kamu tahu harus menulis apa disaat kamu tidak pernah (atau setidaknya belum) pernah menjadi seorang wanita? Tapi hal ini tidak menjadi penghambat yang berarti bagi Arya. Ada sesosok wanita dari masa lalu yang membantu penggambarannya tentang "wanita" hingga menjadi sedemikian rupa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar